Kamis, 04 Januari 2018

PRESEAN: ADU NYALI DAN KEJANTANAN


Presean berarti pertarungan dengan menggunakan Penjalin (Rotan) sebagai alat untuk memukul dan Ende (Shield) sebagai alat pelindung.
Presean adalah salah satu budaya yang terbilang keras karena pemain budaya ini Pepadu akan saling memukul dengan rotan sampai salah satunya mengeluarkan darah atau menyerah. Pemain (pepadu) yang terluka dan mengeluarkan darah maka ia dianggap kalah, meski ia belum menyerah dan masih bisa melanjutkan pertarungan.
Keunikan Presean ini adalah Anda bisa melihat saat Pepadu mulai saling memukul menggunakan Penjalin (Rottan), pertarungan dimulai, dan musisi akan memainkan alat musik tradisional Lombok, sehingga pertarungan tersebut terlihat seperti seseorang yang sedang menari, selaras dengan alat musik tradisional yang dimainkan oleh para musisi, Masing-masing Pepadu memukul lawan sampai salah satu dari mereka berdarah karena bocor atau salah satu dari mereka yang menyerah.

Rabu, 03 Januari 2018

PIAGAM GUMI SASAK



Tanggal peresmian 26 Desember 2015
Tempat Aula Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, Lombok.
Tokoh yang didaulat membacakan piagam gumi sasak, seorang tokoh sejarawan yang bernama Dr. Muhammad Fadjri dan didampingi oleh salah satu tokoh sastrawan yaitu Murahim M.Pd sebagai pembawa piagam.
Tokoh-tokoh penting yang bertanda tangan di dalam Piagam Gumi Sasak, antara lain:
1.      Drs. Lalu Azhar
2.      Drs. Haji Lalu Mujtahid
3.      Drs. Lalu Baiq Windia M.Si
4.      TGH. Ahyar Abduh
5.      Drs. Haji Husni Mu’adz MA., Ph. D
6.      Dr. Muhammad Fajri, M.A
7.      Dr. Jamaludin, M. Ag
8.      Dr. Lalu Abd. Kholik, M.Hum.
9.      Drs. H. A. Muhit Ellepaki, M. Hum
10.  Dr. H. Sudiman M. Pd
11.  Dr. H. L., Agus Fathurraman
12.  Mundzirin
13.  L. Ari Irawan, SE., S. PD., M. Pd.

PIAGAM GUMI SASAK
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Menjadi bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT, dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan mata rantai sejarah kemanusisaan, melalui simbol-simbol yang diletakkan kedalam pemikiran bangsa Sasak  yang  terhampar di Gumi Paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jati diri  yang sebenarnya.
Perjalanan sejarah Bangsa Sasak diwarnai oleh hikmah yang tertuang  dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran Budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jati diri sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingga saat ini, melalui pencitraan Budaya dan Sejarah Bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi bangsa interior yang tak mampu tegak di antara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakan amanat kefitrahannya sebagai sebuah bangsa.
Sadar akan hal tersebut, kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan “PIAGAM GUMI SASAK” sebagai berikut:
Pertama      :Berjuang bersama menggali dan menegakan jati diri bangsa  Sasak demi kedaulatan dan kehormatan Budaya Sasak.
Kedua          :Berjuang bersama memelihara, menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual Bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian, kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.
Ketiga         :Berjuang bersama menegakan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat   :Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak Baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
Kelima   :Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter,bersatu dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan Bangsa Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.

Kamis, 28 Desember 2017

NYONGKOLAN IDENTITAS BUDAYA LOMBOK



Adat nyongkolan sudah dikenal semenjak zaman kerajaan masih ada di Pulau Lombok. Nyongkolan merupakan kegiatan adat dan salah satu bagian dari prosesi pernikahan dalam masyarakat Suku Sasak. Maksud dari prosesi nyongkolan ini adalah sebagai upaya untuk memperkenalkan kedua pasangan mempelai kepada masyarakat sekitar.

Nyongkolan adalah sebuah tradisi lokal di Lombok, dimana sepasang pengantin diarak beramai-ramai seperti seorang raja menuju rumah atau kediaman sang pengantin perempuan, yang dilakukan dengan berjalan kaki di jalan raya (sebelumnya menggunakan kendaraan dari rumah pengantin laki-laki sampai setengah perjalan) menuju rumah pengantin perempuan.


Kegiatan nyongkolan dilakukan dengan menggunakan pakaian adat seperti Lambung atau Kebaya, Kereng nine atau Kain songket, Sanggul dan aksesoris lainnya. Dan untuk pengiring laki-laki menggunakan baju model jas berwarna hitam (Godek Nongqe), Kereng selewok koto ( sarung tenun panjang ), dan sapuk. Sebagian peserta dalam prosesi ini biasanya membawa beberapa benda seperti hasil kebun, sayuran maupun buah-buahan yang akan dibagikan pada kerabat dan tetangga mempelai perempuan nantinya. Pada kalangan bangsawan urutan baris iring-iringan dan benda yang dibawanya memiliki aturan tertentu.
mengiring kedua mempelai yang ditemani oleh seluruh kerabat, sanak saudara serta keluarga dari kedua mempelai. Disaat pelaksanaan nyongkolan ini, arak-arakan pasangan pengantin, peserta iring-iringan tersebut harus mengenakan pakaian adat suku sasak, untuk peserta wanita menggunakan baju



Sesampai di kediaman keluarga pengantin perempuan, pasangan pengantin akan meminta doa restu kepada pihak keluarga, sebagai tanda bahwa pihak keluarga sudah merestui untuk melepas anak gadis mereka dan di bawa oleh suaminya.


SUMBER-SUMBER
BERITAGAR
WARTANTB
KOMPASIANA

PRESEAN: ADU NYALI DAN KEJANTANAN

Presean berarti pertarungan dengan menggunakan Penjalin (Rotan) sebagai alat untuk memukul dan Ende (Shield) sebagai alat pelindung. ...